Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Bagaimana Tata Cara Sholat dalam Perjalanan?

Bagaimana Tata Cara Sholat dalam Perjalanan?

Syariat Islam datang untuk solusi dan kemudahan dalam setiap pelaksanaan ajarannya. Untuk perkara wajib akan selalu ada solusi bagi seorang yang tidak dapat melakukan atau terkendala karena sesuatu. Perkara sholat dalam perjalanan adalah salah satu bentuk kemudahan yang nyata dalam Islam. Bagaimana penjelasannya?

Penjelasan cara sholat dalam perjalanan dan hukumnya

Landasan kemudahan (rukhsah) tentang sholat dalam perjalanan adalah (QS An Nisa 101):

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِى ٱلْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا۟ مِنَ ٱلصَّلَوٰةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱلْكَٰفِرِينَ كَانُوا۟ لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا

 “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Pada kenyataannya, kondisi perjalanan Rasulullah SAW memang kerap didera ancaman ketakutan/khauf sebagaimana tertera dalam teks ayat. Akan tetapi pada prakteknya, kondisi takut karena ancaman tidak menjadi syarat bagi pelaksanaan rukhsah dalam shalat, berdasarkan hadis berikut:

عَنْ يَعْلَى بنِ أُمَيَّةَ، قالَ: قُلتُ لِعُمَرَ بنِ الخَطَّابِ: {ليسَ علَيْكُم جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ، إنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا} [النساء:101] فقَدْ أَمِنَ النَّاسُ، فَقالَ: عَجِبْتُ ممَّا عَجِبْتُ منه، فَسَأَلْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ عن ذلكَ، فَقالَ صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بهَا علَيْكُم، فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ.

“Dari Ya’la bin Umayyah, ia berkata: Aku berkata pada Umar bin Khattab tentang (QS An Nisa, 101) sedangkan manusia telah dalam kedamaian. Beliau berkata, ‘aku pun terheran sebagaimana engkau terheran. Maka aku bertanya pada Rasulullah SAW beliau berkata ‘(itu adalah) Sedekah yang Allah berikan kepada kalian”

Install Takwa App

Secara umum terdapat dua kemudahan (rukhsah) bagi seorang muslim untuk melaksanakan sholat dalam perjalanan. Pertama, Qashar. Secara bahasa berarti pemendekan. Yaitu memendekan rakaat shalat 4 rakaat menjadi 2. Kedua, Rukhsah  yang berarti penggabungan, yaitu penggabungan dua shalat dalam satu waktu.

Dari sisi hukum, melaksanakan rukhsah merupakan sunnah nabi SAW yang perlu diteladani. Sebagaimana hadis Ahmad Ra: “sesungguhnya Allah SWT menyukai rukhsahnya dilakukan sebagaimana ia membenci maksiatnya dilakukan.” Namun para ulama tetap memberikan tolak ukur, syarat dan rukun yang perlu dipenuhi bagi seorang muslim sebelum ia melakukan rukhsah qashar ataupun rukhsah .

Seorang muslim dapat melakukan rukhshah shalat dalam perjalanan dengan beberapa syarat berikut ini: pertama, niat perjalanan tidak boleh untuk tujuan maksiat dan sudah berniat qashar sebelum masuk waktu shalat. Kedua, jarak yang akan dituju minimal adalah 80,64 km. Dan dalam mazhab syafii, disebutkan bahwa batas maksimal dari bersinggah adalah 4 hari.

Ketiga, pelaksanaan qashar harus di luar kota tempat tinggal. Maka tidak sah jika rukhsah dilakukan di dalam kota/daerah tinggal. Hal ini sama adanya saat dalam perjalanan pulang. Seseorang diperbolehkan untuk meng-qashar shalat selama masih di luar kota tempat tinggalnya. Keempat, sholat yang dilakukan adalah sholat wajib adaa. Yaitu sholat wajib yang pada waktu itu dilaksanakan. Sholat qhada tidak diperkenankan dilakukan dalam qashar, kecuali qada yang dilakukan saat dalam perjalanan.

Kelima, melafazhkan niat Ushalli fardha zuhri maqshurah lillahi ta’ala, jika hanya melakukan qashar saja. Dan Ushalli fardha zuhri maqshurah wa majmu’ah lillahi ta’ala jika dibarengi dengan rukhsah. Keenam, tidak bermakmum pada yang sedang melakukan shalat itmaam. Yaitu yang melakukan sholat normal, tidak di-qashar dan di-rukhsah .

Ketujuh, dilaksanakan ketika masih memiliki keyakinan bahwa dirinya berada dalam kondisi bepergian. Jika terdapat keraguan maka shalat qashar dan rukhsah-nya tidak lah sah. Maka wajib baginya untuk mengulang untuk menyempurnakan shalat yang telah lalu.

Baca juga: Kejahatan Seksual dalam Islam, Sebuah Sudut Pandang

Terakhir, yaitu yang ke delapan, tujuan perjalanan jelas. Sehingga jarak tempuh dapat diperkirakan. Hal ini berbeda dengan seorang yang merasa kebingungan dalam perjalanan karena tidak mengetahui tujuan ke mana ia akan bertolak. Dari ini juga diperbolehkan seorang yang selalu melakuan perjalanan seperti supir atau profesi lainnya untuk melakukan qashar.

Wallahua’lam bishawab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *