Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Bagaimana Sombong dapat Menghancurkan Seseorang?

Bagaimana Sombong dapat Menghancurkan Seseorang?

Tidak jarang apabila seseorang telah mendapatkan suatu pencapaian atau prestasi akan muncul sebuah persepsi membanggakan diri sendiri. Kebanggaan pada hasil dari sebuah pencapaian sendiri bukanlah sebuah hal yang tidak tepat, karena sebagai seorang manusia kita memang dituntut untuk menuntaskan segala perkara dengan baik. “Faidza faraghta fanshab”, apabila telah usai engkau dari sebuah perkara, maka tuntaskan lah perkara laiannya. QS Al Insyirah, 5. Namun bencana baru akan datang jika kebanggaan akan hasil sebuah pencapaian tadi meningkat hingga ke sebuah penyakit hati bernama sombong.

Dalam bahasa Arab sombong disebut kibr, yang menurut Az Zabidy berarti sebuah keadaan dalam diri seseorang yang menyanjung diri dan melihat bahwa dirinya unggul atas orang lain. Di dalam Al Quran, Allah Swt telah memperingatkan kepada umat manusisa baik secara eksplisit ataupun tersirat tentang bahaya dan dampak negatif dari sifat sombong. Salah satunya adalah dari QS An Nahl, 23. لَا جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْتَكْبِرِينَ

“Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”      

Imam Al Qurthubi menafsirkan ayat di atas dengan mengutip perkataan para ulama, “setiap dosa mungkin untuk ditutup-tutupi dan disembunyikan kecuali kesombongan, ia merupakan kefasikan yang pasti ditunjukan (perbuatannya).  Dan ia adalah asal dari maksiat. Dalam sebuah hadis shohih disebutkan, sesungguhnya orang-orang yang sombong akan dikumpulkan dengan yang serupa sifatnya, di mana manusia akan menginjak-injak mereka karena kesombongan itu.”

Sementara itu secara tersirat Al Quran juga mengajarkan bahwa Penyakit hati bernama sombong ini telah menjadi sebuah kehancuran dari kisah-kisah para nabi dan sebagian besar dapat kita lihat sendiri satu persatu kaum para nabi itu dihancurkan oleh Allah Swt dengan berbagai macam bentuk azab dan siksaan. Dari kaum nabi Musa As dapat kita lihat kesombongan Fir’aun yang mendakwa dirinya sebagai Tuhan, hancur ditelah laut Merah. Kaum nabi Nuh As yang mendakwakan bahwa nabi mereka tidaklah lebih baik dari pada mereka, hancur tergerus oleh banjir bandang.

Mengapa sombong dilarang, dan bagaimana ia menghancurkan seseorang?

Dari sini mungkin sebagian dari umat manusia bertanya-tanya tentang apakah yang melatarbelakangi pelarangan sifat sombong di dalam Islam, dan apa dampaknya terhadap individu. Penulis merangkum tiga hal mengapa sombong dilarang dalam agama Islam. Pertama, sebagaimana disebutkan di awal pelarangannya datang langsung dari Allah Swt dan tercatat secara nyata dan tersirat. Selain ayat di atas terdapat ayat lainnya yang menyiratkan pelarangan sifat sombong, salah satunya adalah QS Al A’raf 146.

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِن يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ

Install Takwa App

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.”

Kedua, Selain ayat Al Quran, hadis nabi yang menjadi sumber ke dua setelah Al Quran juga menyatakan haramnya sifat sombong. Selain mengharamkan sombong, dalam beberapa periwayatan Rasulullah Saw juga menyertakan ihwal yang mendasari pelarangan tersebut. Salah satunya adalah sebuah hadis qudsi berikut yang menjelaskan bahwa sifat sombong adalah hak prerogatif Allah Swt.

 عن أبي هريرة قال : قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – :  قال الله عز وجل : الكبرياء ردائي ، والعظمة إزاري ، فمن نازعني واحداً منهما قذفته في النار

Dari Abu Hurairah Ra ia berkata: Rasulullah Saw berkata, “Allah Swt berkata, kesombongan adalah selendangku, dan keagungan adalah pakaian kebesaranku, barang siapa melepaskannya dari ku maka akan aku lemparkan ia ke dalam neraka.” Tentu hadis yang semacam ini tidak dapat difahami tekstual, dan wajib untuk di-takwil maksud dari kata selendang dan pakaian kebesaran adalah kekuasaan dan kemampuan Allah Swt yang tiada tara.

Maka dengan seseorang berbuat sombong maka sesungguhnya ia telah berbuat hal yang mustahil baginya, karena melakukan perbuatan ilahy. Hal ini tentu karena Allah Swt tidaklah pencapaian seorang terkait perkara duniawi, namun Dia hanya memandang pada prestasi akhirat yang implementasinya adalah ketakwaan. Dan sombong adalah di antara sifat yang menafikan ketakwaan.

Ketiga, selain dari perspektif religi sifat sombong dapat memperburuk situasi sosial seseorang. Seorang yang sombong akan sulit untuk berinteraksi dengan orang lain karena selalu memandang rendah orang lain. Selain itu sifatnya yang seakan telah mendapatkan pencapaian besar itu membuatnya cepat puas dan gagal untuk maju lebih dari titik tersebut. Ia menjadi cepat puas pada sebuah titik.

Baca juga: Sabar, Sebuah Jalan dari Kebuntuan

Selain ketiga sebab tadi beserta konsekuensinya masing-masing, masih terdapat banyak dampak negatif lainnya dari sifat sombong. Maka cukuplah gambaran bahaya sombong yang diucapkan oleh Rasulullah Saw bahwa seorang yang masih terdapat kesombongan dalam dirinya walau seberat biji dzarrah (titik debu) tidak akan dapat memasuki surga Allah Swt yang kekal.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *