Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Bagaimana Selayaknya Adab Umat Muslim terhadap Istri-Istri Nabi SAW?

Bagaimana Selayaknya Adab Umat Muslim terhadap Istri-Istri Nabi SAW?

Sebagai umat nabi Muhammad SAW hendaknya kita berusaha untuk mengenal lebih dekat dengannya, mengetahui siapa keluarganya, sahabatnya hingga istri-istri nabi SAW. Mempelajari sirah hidup mereka bukan hanya sekedar menambah wawasan akan tetapi juga akan menambah nilai hidup, inspirasi dan referensi moral di kala dekadensi moral menyeruak di masyarakat.

Istri-istri nabi SAW adalah salah satu golongan sahabat yang memiliki peran terpenting dalam perjalanan hidup nabi SAW. Sebagai pasangan hidup, mereka tidak hanya berperan normatif dalam rumah tangga; melaksanakan kewajiban rumah tangga, anak dan dapur. Lebih dari itu, mereka menjadi pasak-pasak penting dalam penyebaran dakwah Islam serta upaya untuk mempertahankannya.

Andaikan studi tentang para istri nabi SAW banyak disorot oleh dunia pendidikan modern, tentu tuduhan dari kaum feminisme terhadap ajaran Islam yang mendakwa bahwa Islam memarjinalkan peran wanita akan sendirinya terbantah. Sebaliknya, kaum konservatif yang merasa perempuan tidak memiliki peran dalam unsur kehidupan juga akan terbungkam.  

Istri-istri nabi, mereka adalah:

–          Khadijah binti Khuwailid            dinikahi pada: 28 S.H   wafat: 3 S.H

–          Saudah binti Zam’ah                   dinikahi pada: 3 S.H     wafat: 54 H

–          Aisyah binti Abi Bakr                   dinikahi pada: 2 H         wafat: 56 H

–          Hafshah binti Umar bin Khatab dinikahi pada: 2/3 H    wafat: 45 H

Install Takwa App

–          Zainab binti Khuzaimah             dinikahi pada: 3/4 H    wafat: 4 H

–          Ummu Salamah                            dinikahi pada: 4 H         wafat: 58 H

–          Zainab binti Jahsy                         dinikahi pada: 4/5 H    wafat: 20 H

–          Juwayriyyah bin Harits               dinikahi pada: 5/6 H    wafat: 50 H

–          Ummu Habibah Abi Sufyan      dinikahi pada: 7 H         wafat: 44 H

–          Shofiyyah bintu Huyay               dinikahi pada: 7 H         wafat: 50 H

–          Maymunah bintu Harits            dinikahi pada: 7 H         wafat: 16 H

–          Mariyah Al Qibtiyyah                  dinikahi pada: 7 H         wafat: 16 H

Demikian adalah nama-nama istri nabi Muhammad SAW beserta tahun pernikahan dan tahun wafatnya. Para ulama sepakat di 11 pertama dari bagan di atas, dan berselisih pendapat pada Mariyah Al Qibtiyyah, karena sebagian menganggapnya sebagai mantan budak, hadiah dari seorang raja dari Mesir. semoga Allah meridhoi seluruhnya.           

Istri-istri nabi dan adab umat muslim terhadanya

Pada kesempatan yang terbatas ini, penulis tidak akan membahas satu persatu profil para istri karena akan membutuhkan masa yang panjang. Penulis justru akan membahas hal yang lebih utama difahami seorang muslim sebelum melangkah ke fase awal dari ilmu adalah adab, lebih tepatnya adab terhadap para istri Nabi SAW.

وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُما كِتَابُ اللهِ فيه الهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بكِتَابِ اللهِ، وَاسْتَمْسِكُوا به فَحَثَّ علَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ قالَ: وَأَهْلُ بَيْتي أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ في أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ في أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ في أَهْلِ بَيْتي فَقالَ له حُصَيْنٌ: وَمَن أَهْلُ بَيْتِهِ؟ يا زَيْدُ أَليسَ نِسَاؤُهُ مِن أَهْلِ بَيْتِهِ؟ قالَ: نِسَاؤُهُ مِن أَهْلِ بَيْتِهِ،

“dan aku meninggalkan untuk kalian 2 perkara besar: pertama ialah kitabulllah (Al Quran) di dalamnya terdapat hidayah, merujuklah padanya dan berpeganglah padanya. Beliau menyerukan dan menasehati dalam perkara Al Quran. kemudian beliau berkata: ‘dan Ahlu bait ku, ku ingatkan kalian pada Allah terhadap keluarga ku (3 kali diucap), kemudian Hushain berkata: dan siapa ahlu baitnya? ‘wahai Zaid, bukan kah para istrinya adalah ahlu baitnya?’ ia berkata ‘para istrinya adalah ahlu baitnya.” HR Muslim, dari shahabat Yazid bin Hayyan RA.

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَن تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُم مَّعْرُوفًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baikkepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kitab (Allah).” (QS Al Ahzab, 6)

Dari hadits di atas difahami, bahwa para istri nabi SAW adalah bagian dari Ahlul bait yang wajib untuk dihormati, diagungkan dan dijaga. Kaum muslimin dihimbau untuk menghormati meski tidak mengkultuskan mereka, karena tiada yang terjaga dari dosa kecuali para nabi.  Mereka memiliki karunia khusus yang ditakdirkan oleh Allah SWT untuk meneruskan darah keturunan nabi SAW.

Sementara ayat 6 dalam QS Al Ahzab, menyatakan bahwa istri para nabi derajatnya serupa dengan ibu kandung, bahkan lebih utama. Tentu perlu difahami, yang dimaksud dalam ayat ini bukan hubungan ibu keturunan, yang dibolehkan untuk melihat auratnya, atau diharamkan untuk dinikahi. Hukum-hukum itu tetap berlaku, akan tetapi keutamaan di sini bernilai penghormatan dan pengagungan hal yang tidak dibedakan dengan ibu kandung.

Keutamaan istri-istri nabi tidak berhenti di titik mereka sebagai keluarga dan ibu kaum mukminin. Jauh sebelum itu, istri para nabi adalah penopang utama dakwah nabi SAW. kita mengenal Khadijah binti Khuwailid RA, beliau sebagai istri pertama nabi SAW, yang menopang, mendorong sekaligus membiayai agenda dakwah nabi SAW sejak awal mula turunnya wahyu.

Setelahnya, di masa pensyariatan, istri-istri berperan sebagai penyambung risalah nabi SAW khususnya dalam perkara sosial dan keluarga. Para istri nabi membantu menjelaskan perihal masalah kewanitaan ke pada umat nabi SAW dari kalangan wanita. Tidak heran banyak dari kalangan istri nabi yang menjadi periwayat hadits nabi Muhammad SAW, seperti Sayyidah Aisyah, Ummu Salamah dan Hafshah binti Umar bin Khattab.

Baca juga: Jadilah Hamba yang Rendah Hati, Anda Akan Bahagia!

Dengan demikian lengkap sudah keutamaan dan keunggulan dari para istri nabi SAW di antara para sahabat Rasulullah SAW. Abu Bakar Al Baqillany menjelaskan “wajib untuk diketahui bahwa sahabat Rasulullah SAW dan yang terutama para sahabat yang 10, 4 di antaranya khulafa rasyidin RA, dan kami mengakui keutamaan para ahlu bait Rasulullah SAW dan mereka para istri Rasulullah SAW, kami bid’ah kan, fasikkan, dan sesatkan siapa yang mencela mereka, atau salah seorang dari mereka atas dasar teks Al Quran dan sunnah yang telah mengutamakan, memuji dan menyanjung mereka, barang siapa yang menyelisi itu, maka ia dihukumi fasik sesuai Al Quran dan Sunnah, kami berlindung diri dari hal itu.”

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *