Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Bagaimana Menyikapi Fenomena Menyakiti Ulama di Masyarakat?

Bagaimana Menyikapi Fenomena Menyakiti Ulama di Masyarakat?

Pemuka agama adalah seorang yang memainkan instrumen penting dalam kehidupan bermasyarakat. Selain mengajarkan perihal agama yang bersifat ritual, mereka juga diberatkan juga untuk menerapkan ajaran moral mulia antara sesama makhluk yang juga menjadi ajaran umat Islam. Karena itu mereka dijaga, dihormati dan bahkan dicintai. Akan tetapi periode akhir ini umat dikejutkan dengan sebagian kalangan yang menunjukan hal sebaliknya, terdapat diskriminasi terhadap mereka dalam berbagai bentuk salah satunya adalah kekerasan fisik yang dialami oleh Syeikh Ali Jaber. Lantas bagaimana langkah menyikapi fenomena menyakiti ulama yang beredar di sekitar kita?

Hal yang perlu diketahui adalah kejadian perlakuan kekerasanan dengan berbagai bentuknya bukanlah hal baru. Al Quran mencatatat bangsa Yahudi bahkan tidak hanya menyakiti para nabi yang dianggap sebagai pemuka agama mereka, karena ketidak puasan atas hukum-hukum yang disampaikan, mereka bahkan tega membunuh nabi-nabi.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi dengan cara tidak benar dan membunuh orang-orang yang menyeru kepada keadilan maka berikan kabar gembira akan azab yang pedih.” Para ahli tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah kaum Yahudi dari bani Israil.

Fenomena menyakiti ulama terus berlanjut hingga masa kenabian Rasulullah Saw. Di masa awal kenabian hingga 13 tahun masa dakwah di kota Mekkah sudah tidak terhitung lagi berapa banyak bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraiys dan para Sahabat yang lemah. Sebut satu peristiwa salah satunya, saat turun ayat Q.S Asyu’ara 214:

 “Dan serulah keluargamu yang terdekat”  وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ   

Nabi Saw naik ke bukit Shafa dan menyeru keluarga terdekatnya yang dalam satu riwayat disebutkan berjumlah sekitar 40 orang. Di sana nabi Saw memproklamirkan kenabiannya dan kabar bagi yang menentang dan menolak seruannya adalah balasan pedih. Saat itu Abu Lahab yang adalah paman nabi sendiri menyatakan kekerasan verbal berupa sumpah serapah menyakitkan yang balasannya sampai sekarang masih direkam oleh Al Quran surat Al Lahab ayat 1-5.

Install Takwa App

Balasan menyakiti ulama

Dari sini, Islam amatlah menjunjung nilai rasionalitas bahwa sesuatu terjadi bukan lah tanpa sebab. Setiap kebaikan akan dibalas kebaikan serupa bahkan berlebih, begitu pula kejahatan akan berbalas kejahatan yang setimpal. Ulama yang menjadi pewaris kenabian, yang dalam hal ini menyampaikan ajaran-ajaran ketuhanan secara universal. Mereka dijamin oleh Allah Swt derajat dan keutamaannya. Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran: 18, yang menyandingkan kesaksian ulama, ulul ilmi  dengan kesaksian Allah Swt dan para malaikatnya atas keesaan Allah.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah bersakti bahwa tiada Tudah selain ia dan ara malaikat, ulama yang berlaku adil. Tidak ada Tuhan kecuali Dia yang Mahaagung dan Mahabijaksana.”

Dan QS Al Mujadilah ayat 11 disebutkan Allah akan mengangkat derajat orang yang berilmu.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang berilmu berderajat-derajat.”

Dari sudut pandang agama amatlah jelas keutamaan orang-orang yang Allah pilih ini. Dari Kedua ayat di atas terlihat sabab musabab keutamaan ulama dari apa yang dititipkan ke pada mereka yaitu ilmu agama. Karena itu Allah Swt mengangkat mereka ke derajat yang hanya Allah Swt saja yang tahu. Bagai kisah heroik yang tayang di layar kaca, hampir seluruh akhir cerita meriwayatkan bahwa orang-orang yang menentang kenabian dan ajaran agama akan bertekuk lutut karena kalah.

Di awal disebutkan kisah nabi-nabi yang dibunuh oleh bani Israil, salah satunya adalah kisah nabi Yahya yang dibunuh oleh raja zalim yang hendak memuluskan niatnya untuk menikahi anak tirinya. Kisah tidak berhenti di sana, disebutkan dalam sebuah riwayat pada akhirnya raja tersebut diserang oleh seorang raja kafir yang memporak-porandakan kerajaannya dan berhasil membunuh lebih dari 70 ribu orang termasuk raja zalim tadi. Atau kisah kaum kafir Quraisy yang menderita kehancuran dalam perang badar dengan lebih dari 300 orang tewas. Juga kaum murtad di masa kekhalifahan Abu Bakar yang hancur lebur diperangi setelah mereka menolak untuk membayar zakat sepeninggalan nabi

Balasan tidak lah usai di dunia, karena dosa besar yang telah dilakukan, Allah telah menyebutkan dalam Al Quran dalam berbagai ayat balasan pedih dan menyakitkan bagi orang-orang yang menyakiti ulama. Simaklah ayat berikut:

وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah neraka Jahannam yang kekal ia di dalamnya, dan Allah murka atasnya, dan melaknatnya, dan mempersiapkan baginya azab yang besar.” Q.S An Nisa 93. Ayat ini oleh para ahlii tafsir  disebutkan salah satu yang paling tegas ancaman dan balasannya. Dan ia berujar tentang seorang yang membunuh seorang mukmin biasa, dapat dibayangkan jika yang dibunuh adalah seorang mukmin yang Allah Swt pilih untuk menyampaikan ajaran-ajarannya kepada umat manusia.

Baca juga:Mutiara Hadits Cinta dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

 

Kesimpulan dari catatan singkat ini menyatakan kemuliaan seseorang ulama tidak terlihat dari aspek materi baik rupa, harta atau wibawa yang mereka miliki. Akan tetapi ajaran agama melihat para ulama layak untuk dijaga dan dihormati karena ilmu agama yang mereka pikul dan tanggung jawab keilmuan yang mereka emban. Bagaimanapun juga kriminalitas yang ditujukan kepada seorang ulama tidak dapat dibenarkan dan berhak untuk ditindak tegas sesuai hukum dan undang-undang yang berlaku di masyarakat. Dan di atas itu semua masyarakat perlu untuk mengetahui urgensi peran yang dijalankan oleh seorang pemuka agama agar mereka dapat menjalankan tugas sesuai dengan titah yang diberikan oleh Allah Swt.

Wallahua’lam bishowab

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *