Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Bagaimana Malaikat Izrail Mencabut Nyawa?

Bagaimana Malaikat Izrail Mencabut Nyawa?

Tiada seorang pun berani membayangkan saat-saat di mana ia akan meninggalkan dunia ini. Kondisi saat itu digambarkan amat berat. Saat “fulan” hendak dicabut nyawanya, hari-hari amatlah berat, dia sudah putus asa akan hadirnya dokter untuk mengobati. Ia juga sudah yakin akan berpisah dengan keluarganya. Hingga tibalah malaikat Izrail untuk melepas hari akhirnya di dunia guna mempertanggungjwabkan segala amalannya di dunia. Prosesi ini digambarkan amat jelas dalam Al Quran surat al Qiyamah ayat 20-30.

Malaikat yang Allah pekerjakan untuk mencabut nyawa umat manusia dan segala makhluk di dunia ini adalah Izrail. Al Quran menyebut nama malaikat ini dengan malaikat maut sebagaimana disebutkan dalam surat  As Sajdah 11. Sementara itu nama Malaikat Izrail dapat dilihat dari riwayat hadis Nabi Saw yang berarti Hamba dari Yang Mahaperkasa.

قُلْ يَتَوَفَّاكُم مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ.

“Katakanlah, yang mewafatkan kalian adalah malaikat maut yang diwakilkan kepadanya. Kemudia kepada Tuhan kalian akan kembali.”

Bagaimana sosok dan rupa malaikat Izrail?

Suatu saat Nabi Ibrahim As bertemu dengan malaikat Izril, ia memintanya untuk menunjukan wujud di saat ia menjemput seorang yang semasa hidupnya ingkar, malakukan dosa dan bermaksiat. Malaikat Izrail pun memperingati bahwa nabi Ibrahim tidak akan kuat melihatnya, akan tetapi nabi Ibrahim tetap meminta. Maka malaikat Izrail mengubah wujudnya menjadi hitam dengan mata-mata terbelalak yang berbalik-balik, rambutnya merajung bagai manusia-manusia yang berdiri, luapan api berkobar-kobar keluar dari mulut dan telinganya.

Diriwayatkan nabi Ibrahim seketika pingsan dan saat sadar ia berta’awudz dan meminta ia kembai ke wujud awalnya. Nabi Ibrahim lantas berkata, “andai manusia dapat melihat penampakan malaikat Izrail saat mencabut nyawa orang-orang ingkar maka sesungguhnya hal tersebut lebih dari cukup untuk membuat mereka tidak berbuat kejahatan selama hidupnya.” Sementara itu nabi Ibrahim juga meminta kepada malaikat Izrail untuk berubah wujud di saat ia mencabut nyawa seorang mukmin. Maka malaikat Izrail merubah wujudnya menjadi manusia indah dengan cahaya dan keagungan yang tidak dapat digambarkan.

Selain perawakan Malaikat Izrail saat menjemput manusia, sebagian kalangan juga kerap mempertanyakan bagaimana seorang malaikat dapat mencabut nyawa manusia yang tidak terhingga jumlah dan tidak terbatas pada teritorial daerah tertentu. untuk menjawabnya, Murad Abdullah Jinany dalam bukunya, Sa’datul Anam bisyarhi ‘Aqidatul Awam, menjelaskan mekanisme pekerjaan malaikat Izrail adalah selayaknya seoarang panglima yang memiliki prajurit. Setiap tiba waktu ajal seseorang maka diutuslah perwakilan malaikat Izrail untuk “menjemputnya.” Pendapat ini sesuai dengan keterangan dari QS Al An’am ayat 61:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ

sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”

Ibn Abi Dunya meriwayatkan dari Al Hakm, sebuah dialog antara nabi Ya’qub As dan Malaikat Izrail. Nabi Ya’qub As berkata: “wahai malaikat maut tiada seorang pun yang bernafas kecuali akan engkau cabut nyawanya. “benar.” Malaikat menjawab, nabi Ya’qub menimpali “lantas bagaimana engkau saat ini sedang bersamaku dan manusia ada di penghujung bumi.” Malaikat menjelaskan: “sesungguhnya Allah Swt telah menghamparkan bumi untuk ku. Ia bagaikan sebuah tempayan berisi air. Saat seorang menaruh kakinya di dalamnya, maka seluruh sisi akan terdampak.”

Ibnu Abbas Ra menambahkan, bahwa malaikat maut akan diiringi oleh seorang dari malaikat kasih sayang dan seorang dari malaikat azab. Saat ditemukan seorang jiwa yang suci maka ia akan dihantarkan kepada malaikat kasih sayang, begitupun sebaliknya.

Baca juga: Memperkuat Aqidah, Menambah Rasa kasih Sayang Kepada Sesama

Bagaimana seorang layaknya menghadapi kematian?

Untuk menutup catatan singkat ini, penulis akan menukil sebuah riwayat kisah nabi Ibrahim As saat hendak dijemput oleh malaikat Izrail. Selepas mengucap salam, malaikat menyatakan tujuan kedatangannya untuk mencabut nyawanya dengan cara yang paling lembut. Lantas nabi Ibrahim meminta kepada sang malaikat untuk kembali dan merevisi keputusan itu kepada Allah Swt. Sang Malaikat patuh, dan menemui Allah Swt serta menyampaikan apa yang dikatakan oleh nabi Ibrahmim.

Seketika Allah berfirman. “katakanlah kepadanya, ‘sesungguhnya kekasih akan menyukai bertemu dengan kekasihnya.” Malaikat pun kembali dan menyampaikan pesan Allah Swt, saat mendengar alasannya. Nabi Ibrahim akhirnya mempersilahkan malaikat maut untuk melaksanakan tugasnya. Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Syeikh dari Muhammad bin Al Munkadir, yang dikutip oleh Imam Jalaludin As Suyuthi dalam kitabnya “AL Habaik fi Akhbaril Malaik.

Kisah ini mengajarkan bahwa cinta hakiki sejatinya hanyalah kepada sang Pencipta, ia rela dengan segala ketulusan untuk kembali kepada-Nya. Seperti itulah selayaknya seorang muslim untuk dalam menghadapi kematian. Tidak risau dan galau apalagi takut, karena masa itu cepat atau lambat akan tiba pada waktunya. Tugas kita sebagai seorang muslim adalah mencintai Allah Swt dan mentaati segala perintahnya, hingga tiba saatnya untuk kembali menuju Tuhan dengan hati yang lapang dan tenang.

Wallhua’lam bishowab.

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *