Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Ajaran Birrul Walidain dalam Sudut Pandang Al Quran

Ajaran Birrul Walidain dalam Sudut Pandang Al Quran

Orang tua menjadi komponen yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Dengan cinta kasih yang mereka berikan, seorang manusia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di muka bumi ini. Tidak hanya menurut Islam, mematuhi, menghormati serta mencintai orang tua adalah sebuah nilai universal yang diakui oleh setiap manusia. Islam mengenal konsep ini dengan sebutan birrul walidain, atau berbuat baik pada orang tua.

Sebagai salah satu sumber hukum pasti Islam, Al Quran menjelaskan bagaimana cara untuk melaksanakan birrul walidain, memahami esensi ajaran, syarat-syarat dan apa saja hal yang perlu diikuti dan bahkan dilarang untuk diikuti. Benar, tentu tiada seorang pun yang bebas dari alfa, termasuk orang tua. Dari itu perlu ada semacam indikator yang menjelaskan sampai sebatas mana kepatuhan orang tua perlu dilaksanakan.

Tafsir Ayat Al Quran tentang Birrul Walidain

Terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang sub tema ini. Tidak heran karena peran orang tua dalam Islam amatlah penting, bahkan melawan orang tua, atau dalam bahasa agamanya uququl walidain dikategorikan sebagai dosa besar. Berikut adalah penjabaran beberapa ayat tentang birrul walidain.

Al Isra 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Tentang ayat ini Imam As Samarqandy, dalam tafsir Bahrul Ulum-nya menyebutkan Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk mematuhi-Nya dan jangan bermaksiat kepada-Nya. Kemudian menyandingkannya agar berbuat baik pada orang tua. Dan di saat tua jangan lah berkata “uffin”, yaitu sebuah perumpamaan kata sebal dari sang anak saat mengurusi orang tua.

Install Takwa App

Kemudian Imam As Samarqandy, mengutip sebuah hadis dari Imam Ali RA:

 قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: «لَوْ عَلِمَ الله شَيْئَاً من العقوق أعظم مِنْ أُفٍ لحرمه، فَلْيَعْمَلِ العَاقّ مَا شَاءَ أَنْ يَعْمَلَ فَلَنْ يَدْخُلَ الجَنَّةَ، وَلْيَعْمَلَ البَارّ مَا شَاءَ أن يعمل فلن يدخل النَّار»

 

Andaikan Allah SWT mengetahui hal yang lebih bersar dari perkataan “uffin” maka Dia akan melarangnya, hendaklah dia yang berdurhaka pada orang tua berbuat apapun maka dia tidak akan masuk surga, dan hendaklah orang yang berbuat baik pada orang tuanya itu berbuat apapun maka ia tidak akan masuk neraka.

An Nisa 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim,orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diriز

Tentang ayat ini Syeikh Sya’rawy dari Mesir menegaskan bahwa kedua orang tua adalah sebab zahiriah dari wujud anak. Dari itu setelah perintah untuk beribadah dan larangan untuk syirik pada-Nya yang merupakan sebab batiniah (penciptaan), Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik pada orang tuanya yang merupakan wasilah atau perantara wujud keberadaannya di dunia ini untuk beribadah pada Allah SWT.

Al ‘Ankabut 8:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِن جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Wahbah Zuhaily, seorang mufassir kontemporer mengatakan bahwa perkara birrul walidain termasuk satu dari tiga wasiat keimanan dalam ayat ini. Beliau menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk sahabat Sa’d bin Abi Waqash yang mana ibunya bersumpah tidak akan berteduh dari sinar matahari terik hingga ia kembali menyekutukan Allah SWT dan meninggalkan Muhammad SWT.

Disini jelas bagaimana ketaatan pada orang tua terikat pada unsur keimanan. Islam memberikan kebebasan memilih untuk beriman pada Allah SWT, maka dari itu tiada ketaatan untuk makhluk dalam dosa pada sang Khaliq.

Ibrahim 41:

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”

Masih dari penjelasan Az Zuhaili dalam tafsir Al Munir, ayat ini merupakan satu dari rangkaian doa yang dipanjatkan oleh nabi Ibrahim AS di hadapan Ka’bah. Beliau menjelaskan bahwa doa ini menjadi syariat keagungan Baitul Haram, dan betapa besarnya makna penyembahan pada sang Maha Kuasa, dan betapa buruknya penyembahan selain dari padanya. Doa ini juga menekankan hakikat keimanan, syukur atas nikmat-nikmat Allah, permintaan ampunan bagi dirinya, orang tuanya juga seluruh umat muslim.

Baca juga: Meneladani Rasul di Era Globalisasi

Demikian tadi adalah uraian ringkas tentang penjelasan birrul walidain dari Al Quran. Meski begitu penulis tidak membatasi penjelasan tema ini hanya dari Al Quran, banyak sekali sumber lainnya seperti hadis nabi dan penjelasan para ulama akan keutamaan berbakti pada orang tua.

Wallahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *