Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Adab Berteman Dalam Islam Sesuain Anjuran Rasulullah SAW

Adab Berteman Dalam Islam Sesuain Anjuran Rasulullah SAW

Dalam menjalani kehidupannya, manusia kerap dibenturkan dengan perkara-perkara yang terlihat sepele, namun pada kenyataannya berdampak besar. Seperti dengan siapa dia harus berteman, dan bagaimana adab/tatakrama dalam berteman? Hal tersebut tidak lain karena  manusia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini. Ia terikat dengan lingkungannya, untuk saling melengkapi, memberi dan berinteraksi dengan sesamanya.

Ibnu Khaldun, bapak ilmu sosial kenamaan asal Maroko berkata, al insanu madaniyyun bithob’i, manusia memiliki tabiat untuk bersosialisasi. Dan tentunya dengan siapa seseorang berteman dan menjalalin kehidupan sosial pasti akan berdampak ke dalam kehidupannya sendiri. Nabi Muhammad Saw, pernah berkata menyoal tentang kualitas sebuah pertemanan, dalam sebuah hadis yang diriwayat oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah R.a.:  الرجل على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل  yang kurang lebih artinya: ”Seseorang itu terpengaruhi pada apa yang dilakukan oleh temannya. Hendaklah ia melihat siapa yang dia temani.

Di dalam hadis ini Rasulullah Saw dengan sangat jelas memerintahkan umatnya untuk memiliki adab berteman yang berkualitas. Kata Diin, yang digunakan oleh Rasulullah hendaknya jangan difahami dengan agama, akan tetapi lebih luas lagi kata diin bisa diartikan perbuatan, sebagaimana dikatakan dalam peribahasa Arab: Kama tadiinu tudaan, sebagaimana kamu perbuat begitupun kamu akan menuai perbuatanmu. Di dalam riwayat lain, bahkan Rasulullah Saw menggambarkan teman yang baik dengan penjual parfum dan teman yang tidak baik dengan seorang pandai besi. Untuk memahaminya hadis ini tentunya kita perlu keluar untuk mencari konteks yang tepat.

Tentunya Rasulullah Saw tidaklah benar-benar membenci pertemanan dengan tukang besi yang kesehariannya berkutat dengan besi yang baunya kurang sedap itu. Dan juga tidak benar-benar menyenangi seluruh penjual parfum. Rasulullah Saw memerintahkan kita untuk berteman dan bergaul dengan siapapun tanpa mengenal apapun latar belakang pekerjaannya. Karena selama pekerjaan itu halal, maka ia amatlah dicintai oleh Allah Swt. Yang menjadi benang merah dari permisalan Rasulullah dari tukang parfum dan tukang besi adalah benefit dari pertemanan itu. Dengan siapapun seorang muslim berteman hendaknya ia saling memberikan manfaat kepada saudaranya.

Lebih jelasnya dapat dilihat dari Sirah Rasulullah Saw itu sendiri. Di saat Nabi Muhammad Saw beserta kaum Muhajirin dari Mekkah berhijrah ke Madinah. Rasulullah Saw melihat kaum muhajirin amatlah lemah, karena baru saja meninggalkan keluarga, harta dan kedudukannya di kampung halamannya, Mekkah. Mereka memerlukan pelindung dan saudara untuk dapat membantu kehidupan sehari-hari, karenanya Rasulullah Saw akhirnya menyatukan kaum Anshor dan Muhajirin dalam tali persaudaraan.

Jika dilihat lebih luas, di saat itu adalah fase paling genting dimana Rasulullah Saw baru saja ingin memulai stabilisasi peradaban di Tanah barunya. Rasulullah Saw menyadari di antara pondasi terpenting dari sebuah negara adalah persaudaraan warga negara. Setiap warganya harus satu padu saling melengkapi dan membantu dalam kebaikan demi tercapai masyarakat yang madani berasaskan kemaslahatan. Setelah masing-masing kaum Muhajiri dan Anshor saling bersaudara, barulah Rasulullah memulai untuk membangun peradaban baru di kota Madinah.

Maka sebagai individu dari warga negara yang baik hendaknya setiap dari diri kita untuk lebih selektif lagi dalam membangun pertemanan dan memiliki adab berteman yang baik. Sebuah pepatah Arab berkata: khairul ashabi man yadulluka ‘ala khairin. Sebaik-baik teman adalah yang mengarahkan kamu kepada kebaikan. Maka adab pertemanan dalam Islam adalah orientasi kebaikan sebagaimana persaudaraan kaum Muhajirin dan Anshor. Setelahnya pertemanan tersebut beralih ke sebuah simbiosis yang saling menguntungkan. Bentuknya bisa berupa-rupa, bisa berbentuk motivasi di saat lelah, pendengar dalam keluh kesah, pengingat di saat melenceng atau bahkan penopang materi di saat terlilit hutang.

Install Takwa App

Begitulah Islam mengatur umatnya, bahkan dalam adab berteman haruslah memberikan sumbangsing kebaikan kepada satu sama lain. Karena pada dasarnya setiap mukmin adalah saudara maka diharuskan setiap saudara untuk saling mengoreksi dan mengingatkan apabila saudaranya berada dalam kesalahan. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

yang artinya, “sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah saudara (dalam agama) maka hendaknya apabila mereka saling berselisih agar saling memperbaiki dan mengoreksi.”

 

_

Penulis:
Albi Tisnadi Ramadhan,
Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *