Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Abu Ubaidah bin Jarrah, Sang Penjaga Umat

Abu Ubaidah bin Jarrah, Sang Penjaga Umat

Rasulullah sering menggelari para sahabatnya dengan berbagai julukan yang baik. Sebutan itu adalah bentuk sanjungan Rasulullah SAW bagi para sahabatnya atas berbagai jenis karakteristik mulia mereka. Pada kesempatan ini mari kita mengenal salah satu sahabat Rasulullah SAW, yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah yang digelari Aminul Ummah, Sang Penjaga Umat.

Ibnu Hajar al Asqalany berkata, “Al Amin artinya terpercaya dan bertanggung jawab. Sifat ini walaupun bisa serupa dengan orang lain akan tetapi dirasakan perbedaannya saat disifati oleh nabi SAW. Sebagaimana Utsman bin Affan digelari dengan pemalu dan Ali dengan pengadil.” Benar saja Abu Ubaidah adalah sosok yang sejatinya tegar, kuat dan bertanggung jawab atas setiap tugas yang disematkan kepadanya.

Siapakah Abu Ubaidah bin Jarrah dan apa saja perannya untuk Islam?

Abu Ubaidah adalah kunyah, nama aslinya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah bin Hilaal bin Haris bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah. Sementara ibunya adalah, Umaimah bintu Usman bin Jabir bin Abd Uzza. Beliau merupakan sahabat yang lebih dikenal dengan kunyah dari pada nama aslinya, dan nama beliau dinisbatkan pada kakeknya yaitu Jarrah.

Beliau merupakan segelintir sahabat rasulullah SAW yang pertama masuk Islam. Nabi SAW bertemu dengannya dan para sahabat di Darul Arqam, yaitu sebuah tempat di mana kaum muslimin generasi pertama bertemu untuk mendapatkan pengajaran Islam, jumlah mereka saat itu tidak lebih dari 40 orang.

Abu Ubaidah bin Jarrah juga termasuk sahabat yang mengikuti seluruh peristiwa penting dengan Rasulullah baik ketika masih di Mekkah dan setelah tiba di Madinah. Pada periode Mekkah beliau turut serta bersama para sahabat hijrah ke Habasyah (Ethiopia) saat ini, untuk menghindari siksaan dari kaum Quraisy.

Sementara di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakannya dengan Abu Thalhah Zaid bin Sahl Al Khazraji. Sebagaimana para sahabat Rasul awal lainnya, Abu Ubaidah memiliki peran penting dalam menyebarnya Islam. Beliau adalah satu di antara para panglima perang di masa Rasulullah SAW ataupun masa Khulafa Rasyidin.

Di masa nubuwwah beliau terkenal dengan sosoknya yang tidak jarang melindungi nabi SAW dalam peperangan. Salah satunya adalah dalam peristiwa perang Uhud yang terjadi pada 7 Syawal, tahun ke 3 Hijriah. Saat itu Rasul tertusuk perangkat perang di kepala karena serangan kaum Quraisy, dari itu Abu Ubaidah meminta kepada Abu Bakar agar melindunginya sementara ia melepaskan perangkat perang yang menusuk pipi Rasulullah.

Install Takwa App

Diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA, yang maknanya Abu Ubaidah menggunakan dua gigi serinya untuk mencabut sesuatu yang menusuk pipi Rasulullah SAW. karena hal itu dua gigi seri beliau patah hingga akarnya. Selain itu Rasulullah SAW juga kerap mengutusnya ke berbagai medan perang tanpa keikutsertaan nabi SAW. Di antara peristiwa yang paling dikenang adalah peristiwa Saraya Al Khabath.

Saraya adalah peperangan yang tidak disertai oleh Rasulullah SAW, beliau hanya menunjuk sahabat kepercayaannya untuk memimpin pasukan. Al Khabath adalah dedaunan yang gugur dari pohonnya. Dari Jabir bin Abdullah diriwayatkan, suatu saat Rasulullah SAW mengutus para sahabatnya ke kawasan pesisir, beliau SAW mengutus Abu Abdullah bin jarrah sebagai pemimpin pasukan.

Beliau dibekali 300 orang pasukan. Saat diperjalanan perbekalan pun menipis, Abu Ubaidah memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan perbekalan, Jabir mengatakan bahwa saat itu Abu Ubaidah memberikan satu buah kurma setiap harinya. Orang yang bersama Jabir berkata, “apakah hal itu cukup untuk kalian?” Jabir membalas, “saat itu kami menghisap kurma seperti bayi menghisap susu ibunya, kemudian kami minum. Hal itu cukup untuk hingga malam.”

“Kami terus melakukannya hingga kurma itu habis, dan kami sangat kelaparan karenanya, hingga kami memakan dedaunan yang gugur dari pohonnya. Karena itu pasukan itu dinamakan dengan pasukan ‘Al Khabath’. kemudian saat kami sampai di pantai dan kami menemukan seekor ikan paus yang (besarnya) seperti bukit, kami pun memakannya selama selama setengah bulan.” Kemudian saat pasukan tiba ke Madinah, Rasul SAW berkata “makan lah rizki yang telah Allah berikan bagi kalian, apabila masih tersisa kalian bisa menyediakannya untuk kami.” 

Seperti itulah peran besar Abu Ubaidah bin Jarrah di masa kenabian. Setelah masa kenabian, Abu Ubaidah juga mengemban peran besar. Salah satunya adalah pada peristiwa Bani Saqifah. Yaitu sebuah peristiwa para pembesar kaum Quraisy saat meninggalnya Rasulullah SAW. Kaum Anshor dengan tanggap berkumpul untuk menyatakan bahwa kaum mereka memiliki seorang raja utusan yaitu Sa’d bin Ubadah.

Mendengar hal itu, Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah menyusul. Mereka tidak ingin ada perpecahan yang terjadi setelah peninggalan Rasulullah SAW. Abu Bakar berkata, “Kami adalah pemimpin sementara kalian adalah menteri. Berbaiatlah pada Umar atau Abu Ubaidah,” namun Umar menampik dan mengatakan bahwa Abu Bakar lebih pantas karena ia yang terdekat dan paling dicintai Rasulullah. Pada akhirnya kaum Muhajirin dan Anshor berbaiat pada Abu Bakar Ash Shiddiq.

Kesaksian Abu Bakar atas Abu Ubaidah bin Jarrah yang mana beliau layak untuk menjadi khalifah sepeninggal nabi SAW bukan lah suatu perkara remeh. Walaupun Abu Ubaidah bukan lah dari kalangan besar kaum Muhajirin, bahkan Quraisy, namun pangkat dan derajatnya di samping nabi amat lah tinggi. Beliau SAW telah menggelarinya dengan sebutan Aminul Ummah, yaitu penjaga dari umat Islam.

Baca juga:Abdurrahman bin Auf, Sahabat yang Mendermakan Separuh Hartanya untuk Islam

Sebenarnya masih banyak kisah heroik dari sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah, namun catatan singkat ini tidak lah bisa menjadi lembaran kisah keseluruhan dari sosok luar biasa ini. Salah satunya adalah peristiwa pembebasan tanah Syam (Suriah, Iran, Palestina dsk) dari tangan kekaisaran Byzantium, penulis akan mengisahkannya di lain kesempatan. Insya Allah.

Wallaahua’lam bishowab

_

 

Penulis:

Albi Tisnadi Ramadhan,

Sedang menempuh studi di Universitas Al Azhar, Kairo. Fakultas Studi Islam dan Bahasa Arab.

 

Editor:

Azman Hamdika Syafaat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *